Sabtu, 25 Juni 2016

Kode Etik

HEDONISME dan UTILITARIANISME


Disusun Oleh :
Nama : 1. Alfiah Wulandari (10515503)
2. Mutiara Deviani (14515864)
3. Raina Putri Anisa (15515590)
4. Rianti Nurindah Kuwais (17515678)
5. Riskah Yullyanti (16515065)
6. Tiara Ayu Wirahutami (16515883)
7. Zahrah Khairunnisa (17515381)

                                                Kelas : 1PA14



Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kode Etik
Semester Genap
Tahun Ajaran 2015 / 2016


Universitas Gunadarma

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 HEDONISME
Sepanjang sejarah barangkali tidak ada filsafat moral yang lebih mudah dimengerti dan akibatnya tersebar lebih luas seperti hedonisme ini.Maka tidak mengherankan jika pandangan ini sudah timbul pada awal sejarah filsafat.Atas pertanyaan ‘apa yang menjadi hal yang terbaik bagimanusia’, para hedonismen jawab :kesenangan (Hedone dalam bahasaYunani), adalah baik apa yang memuaskan keinginan kita, apa yang meningkatkankuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri kita.
Dalam filsafat yunani hedonism sudah ditemukan pada Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355 SM), seorang murid sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tetapi ia sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya mengkritik jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh orang lain. Aristippos menjawab : yang sungguh baik bag imanusia adalah kesenangan. Hal itu terbukti karena sudah sejak masa kecilnya manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Bagi Aristippos kesenangan itu bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain dari pada gerak dalam badan. Mengenai gerak itu ia membedakan tiga kemungkinan :gerak yang kasar dan itulah ketidaksenangan, misalnya, rasa sakit ; gerak yang halus dan itulah kesenangan; sedangkan tiadanya gerak merupakan suatu keadaan netral, misalnya, jika kita tidur. Aristippos menekan lagi bahwa kesenangan harus dimengerti sebagai kesenangan aktual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan di masa mendatang. Sebab, hal-hal terakhir ini hanyalah ingatan akan atau antisipasi atas kesenangan. Yang baik dalam arti sebenarnya adalah kenikmatan kini dan disini. Jika kita melihat pandanga Aristipposini sebagai keseluruhan, perlu kita simpulkan bahwa ia mengerti kesenangan sebagai badani, aktual, dan individual.
Akan tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Aristippos pun mengakui perlunya pengendalian diri, sebagaimana sudah diajarkan oleh gurunya, Sokrates. Dalam pada itu mengakui perlunya pengendalian diri tidak sama dengan meninggalkan kesenangan. Yang penting ialah mempergunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terbawa olehnya, sebagaimana menggunakan kuda atau perahu tidak berarti meninggalkannya, tetapi menguasainya menurut kehendak kita.Konon, kepada teman-teman yang mengkritiknya karena hubungannya dengan seorang wanita penghibur kelas tinggi yang bernama Laisia menjawab : ‘Saya memiliki Lais, ia tidak memiliki saya’. Secara konsekuen ia berpendapat juga bahwa manusia harus membatasi diri pada kesenangan yang diperoleh dengan mudah dan tidak perlu mengusahakan kesenangan dengan susah payah serta bekerja keras.
Filsuf yunani lain yang melanjutkan hedonism adalah Epikuros (341-270 SM), yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan ,tetapi pengertiannya tentang kesenangan lebih luas daripada pandangan Aristippos. Walaupun tubuh manusia merupakan ‘asas serta akar’ segala kesenangan dan akibatnya kesenangan badani harus dianggap paling hakiki, namun Epikorus mengakui adanya kesenangan yang melebihi tahap badani. Dalam sepucuk surat ia menulis : ‘Bila kami mempertahankan bahwa kesenangan adalah tujuannya, kami tidak maksudkan kesenangan indrawi, tetapi kebebasan dari nyeri dalam tubuh kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa’ (Surat kepada Menoikeus). Tetapi kesenangan rohani itu hanyalah bentuk yang diperhalus dari kesenangan badani. Ia juga tidak membatasi kesenangan pada kesenangan actual saja. Dalam menilai kesenangan, menurut Epikuros kita harus memandang kehidupan sebagai keseluruhan termasuk juga masa lampau dan masa depan.
Biarpun pada dasarnya setiap kenangan bisa dinilai baik, namun itu tidak berarti bahwa setiap kesenangan harus dimanfaatkan juga. Dalam hal ini pentinglah pembedaan yang diajukan Epikuros antara tiga macam keinginan :keinginan alamiah yang perlu (seperti makanan), keinginan alamiah yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), dan keinginan yang sia-sia (seperti kekayaan). Hanya keinginan macam pertama harus dipuaskan dan pemuasannya secara terbatas menghasilkan kesenangan paling besar. Karena itu Epikuros menganjurkans emacam ‘pola hidup sederhana’. Orang bijaksana akan berusaha sedapat mungkin hidup terlepas dari keinginan. Dengan demikian manusia akan mencapai ataraxia, ketenagan jiwa atau keadaan jiwa seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal yang lain. Ataraxia begitu penting bagi Epikorus, sehingga ia menyebutkan juga tujuan kehidupan manusia (disamping kesenangan). Ataraxia berperanan bagi jiwa, seperti kesehatan bagi badan. Orang bijaksana yang memperoleh ketenangan jiwa itua kan berhasil mengusir segala macam ketakutan (untuk kematian, dewa-dewa, dan suratan nasib), menjauhkan diri dari kehidupan politik dan menikmati pergaulan dengan sahabat-sahabat.

·         Tujuan Kritis
A.  Dalam hedonisme terkandung kebenaran yang mendalam: manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari ketidak senangan. Psikologi modren - khususnya psikolohi yang memanfaatkan psikoanalisi Sigmund Freud - memperlihatkan bahwa kecenderungan manusia itu bahkan terdapat pada taraf tak sadar. Sering kali manusia mencari kesenangan tanpa diketahuinnya (dibandingkan paham “libido” pada Freud). Tidak bisa disangkal, keinginan akan kesenangan merupakan suatu dorongan yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Tapi di sini perlu dikemukakan sebuah catatan kritis yang pertama. Apakah manusia selalu mencari kesenangan? Apakah manusia menurut kodratnya mencari kesenanfan dalan arti bahwa ia tidak lagi manusia (tapi malaikat atau apa...), jika ia tidak mencari kesenangan? Apakah tidak mungkin juga manusia yang membaktikan seluruh hidupnya demi kebaikan orang lain, dengan niat murni tanpa pamrih? Tentu saja, para hedonis selalu bisa mengatakan bahwa mencari kesenangan adalah motivasi terkahir. Jika kita melihat Ibu Teresa dan Kalkuta beserta rekan-rekannya membaktikan hidupnya dengan melayani orang yang paling miskin dan menderira, para hedonis bisa saja mengatakan bahwa mereka pada akhirnya melakukan hal itu untuk mancari kesenangan, untuk dipuji oleh khalayak ramai, untuk meraih Hadiah Nobel (dan ternyata berhasil) atau sekurang-kurangnya untuk memperoleh kebahagian kekal di surga sebagai pahala atas segala jerih payahnya di bumi ini. Atau para hedonis bisa menegaskan bahwa membantu orang lain selalu juga menyenangkan, karena “lebih baik memberi daripada menerima”. Orang yang sanggup memberi selalu berada dalam posisi yang lebih menyenangkan. Tetapi apakah itu seluruhnya benar? Apakah orang seperti Ibu Teresa berbuat baik hanya selama dan sejauh mana perbuatannya membawa kesenangan? Apakah kesenangan betul-betul motivasi terakhir hidupnya? Sulit untuk membuktikan ketidakbenaran para hedonis. Kita yakin mereka tidak benar bukan karena suatu kekurangan logis dalam argumentasinya, melainkan karena pandangan mereka tidak cocok dengan pengalaman hidup kita. Kita menerima kemungkinan sikap altruistis yang murni, biarpun barangkali jarang tercapai.
B.     Kritik lebih berat lagi adalah bahwa dalam argumentasi hedonisme terdapat loncatan yang tidak di pertanggungjawabkan. Dari anggapan bahwa kodrat mannusia adalah encari kesenangan (yang menurut hemat kami dapat dipertanyakan lagi), ia sampai pada menyetarafkan kesenangan dengan moraliras yang baik. Secara logis hedonisme harus membatasi diri pada suatu etika deskriptif saja (pada kenyataannya kebanyakan manusia membiarkan tingkah lakunya dituntun oleh kesenangan), dan tidak boleh merumuskan suatu etika normatif (yang baik secara moral adalah mencari kesenangan). Jika manusia memang cenderung kepada kesenangan, apa yang membuktikan hal itu tentang kualitas etisnya? Jika manusia cenderung kepada kesenangan, apa yang menjamin bahwa kecenderungan itu baik juga? Ada yang memperoleh kesenangan dengan menyiksa atau malah membunuh orang lain, yaitu mereka yang disebut kamu sadis. Para hedonis tidak bisa menyingkirkan kenyataan itu dengan menandaskan: tapi perbuatan seperti itu a kan dihukum dan karena itu akan disertai ketidaksenangan. Sebab, banyak perbuatan jahat tidak diketahui dan akibatnya tidak dihukum. Karena itu kesenangan saja tidak cukup untuk menjamin sifat atis suatu perbuatan.
C.    Para hedonis mempunyai konsepsi yang salah tentang kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik, karena disenangi. Akan tetapi, kesenangan tidak merupakan suatu peraaan yang subyektif belaka tanpa acuan obyektif apa pun. Sebenarnya kesenangan adalah oantulan subyektif dari sesuatu yang obyektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki sesuatu yang baik. Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang intrinstik, bukan karena kita secara subyektif belaka menganggap hal itu baik. Jadi, kebaikan dari apa yang menjadi obyek kesenangan mendahului dan diandalkan oleh kesenangan itu. Dalam hal ini James Rachels memberi sebuah contog yang jelas. Andaikan saja saya mempunyai seorang sahabat. Saya senang sekali dengan dia, karena berulang kali saya mengalami keramahan, perhatian dan kebaikan hatinnya terhdap saya. Tapi pada kenyataannya dan tanpa saya mengetahuinya yang disebut “sahabat” itu terus-menerus membohongi saya, meniou saya dan menjelekkan nama baik saya. Lalu timbul pertanyaan: apakah saya sungguh-sungguh senang dengan dua? Tentu tidak. Keseangan saya dengan dia tidak lebih daripada sbeuah ilusi saja, suatu dinia khayalam yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi saya dijadikan senang karena memiliki sesuatu yang betul-betul baik.
D.    Jika dipikirkana secara konsekuen, hedonisme menganduung suatu egoisme, karena anya memperhatikan kepentingan dirinya saja. Itulah keberatan keempat terhadap hedonisme. Yang dimaksudkan dengan egoisme di sini adalah egoisme etis atau egoisme yang mengatakan bahwa saya tidak mempunyai kewajiban moral membuat sesuatu yang lain daripada yang terbaik bagi diri saya sendiri. Egoisme etis mempunyai prinsip saya duluan, orang lain belakangan saja. Tapi prinsip itu sulit untuk dipertahankan. Apa yang membuat saya menjadi begitu istimewa? Mengapa saya membutuhkan lebih banyak atau hal-hal lebih baik daripada orang lain? Egoisme etid harus ditolak karena bertentangan dengan prinsip persamaan (the principle of equality yang merupakan suatu prinsip keadilan): semua manusia harus diperlakukan dengan cara sama, selama tidak ada alasan untuk perlakuan yang berbeda. Jika dua pasien pada waktu yang sama tiba dirumah sakit, yang satu pasien gawat, yng lain pasien biasa, ada alasan untuk melayani pasien gawat dulu dan baru kemudian pasien biasa. Jika dua anak muda ikut dalam tes masuk perguruan tinggi dan yang satu memperoleh nilai bagus dan sedangkan yang kedua mendapat nilai jelek, dengan alasan pula untuk perlakuan yang berbeda, yaitu menerima yang pertama dan menolak yang kedua. Tapi jika tidak ada alasan untuk perlakuan yang berbeda, dua orang harus diperlakukan dengan cara yang sama. Saya tidak bisa menuntut bahwa sayalah yang didahulukan, jika tidak ada alasan yang relavan.

2.2 UTILITARIANISME

Aliran ini berasal dari tradisi pemikiran moral di United Kingdom dan di kemudian hari berpengaruh ke seluruh kawasan yang berbahasa Inggris. Filsuf Skotlandia, David Hume (1711-1776), sudah memberi sumbangan penting ke arah perkembangan aliran ini, tapi utilitarianisme menurut bentuk lebih matang berasal dari filsuf Inggris, Jeremy Bentham (1748-1832), dengan bukunya Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789). Utilitarianisme dimaksudkan sebagai dasar etis untuk membaharui hukum Inggris, khususnya hukum pidana. Jadi, ia tidak ingin menciptakan suatu teori moral abstrak, tetapi mempunyai maksud sangat konkret. Ia berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah Illahi atau melindungi yang disebut hak-hak kodrati. Karena itu ia beranggapan bahwa klasifikasi kejahatan, umpamanya, dalam sistem hukum Inggris adalah ketinggalan zaman dan harus diganti. Bentham mengusulkan suatu klasifikasi kejahatan yang didasarkan kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat. Suatu pelanggaran yang tidak merugikan orang lain, menurut Bentham sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan kriminal, seperti misalnya pelanggaran seksual yang dilakukan atas dasar suka sama suka.
Bentham mulai dengan menekankan bahwa umat manusia menurut kodratnya ditempatkan di bawah pemerintahan dua penguasa yang berdaulat: ketidaksenangan dan kesenangan. Menurut kodratnya manusia menghindari ketidaksenangan dan mencari kesenangan. Kebahagiaan tercapai, jika ia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan. Dalam hal ini Bentham sebenarnya melanjutkan begitu saja hedonisme klasik.
Karena menurut kodratnya tingkah laku manusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk, sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Dalam hal ini Bentham meninggalkan hedonisme individualistis dan egoistis dengan menekankan bahwa kebahagiaan itu menyangkut seluruh umat manusia. Moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia. Dengan demikian, Bentham sampai pada the principle of utility yang berbunyi: the greatest happiness of the greatest number, “kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar”. Prinsip kegunaan ini menjadi norma untuk tindakan-tindakan kita pribadi maupun untuk kebijaksanaan pemerintah, misalnya, dalam menentukan hukum pidana.
Menurut Bentham, prinsip kegunaan tadi harus diterapkan secara kuantitatif belaka. Karena kualitas kesenangan selalu sama, satu-satunya aspek yang bisa berbeda adalah kuantitasnya. Bukan saja the greatest number tapi juga the greatest happiness dapat diperhitungkan. Untuk itu ia mengembangkan the hedonistic calculus. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan diperhitungkan menurut intensitas dan durasi perasaan yang diambil daripadanya, menurut akibatnya, menurut kepastian akan dapat menghasilkan perasaan dengan sumbernya, menurut kemurnian serta jangkauan perasaan, dan sebagainya. Perhitungan ini akan menghasilkan saldo positif, jika kredit (kesenangan) melebihi debetnya (ketidaksenangan). Salah satu contoh adalah cara Bentham memperhitungkan kadar moral dari perbuatan minum minuman keras sampai mabuk. Hasil perhitungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

KEMABUKAN

KETIDAKSENANGAN (DEBET)
KESENANGAN (KREDIT)
Durasi        : singkat
Akibatnya  : -kemiskinan
- nama buruk
 - tidak sanggup bekerja
Kemurnian : Dapat diragukan dalam keadaan mabuk sering tercampur unsur ketidaksenangan)
Intensitas  : membawa banyak kesenangan
Kepastian  : kesenangan pasti terjadi
Jauh/Dekat: kesenangan timbul cepat











Seandainya tidak ada segi negatif, maka keadaan mabuk akan merupakan sesuatu yang secara moral baik. Tapi sebagai keseluruhan saldo adalah negatif dan Bentham malah sangat negatif, sehingga kemabukan harus dinilai secara moral sangat jelek. Moralitas semua perbuatan dapat diperhitungkan dengan cara sejenis.
Utilitarianisme diperhalus dan diperkukuh lagi oleh filsuf Inggris besar, John Stuart Mill (1806-1873), dalam bukunya Utilitarianism (1864). Dari pendapatnya disini patut disebut dua hal. Pertama, ia mengkritik pandangan Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan harus diukur secara kuantitatif. Ia berpendapat bahwa kualitasnya perlu dipertimbangkan juga, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada yang lebih rendah. Kesenangan manusia harus dinilai lebih tinggi daripada kesenangan hewan, tegasnya, dan kesenangan orang seperti Sokrates lebih bermutu daripada kesenangan orang bodoh. Tetapi kualitas kebahagiaan dapat diukur juga secara empiris, yaitu kita harus berpedoman pada orang yang bijaksana dan berpengalaman dalam hal ini. Orang seperti itu dapat memberi kepastian tentang mutu kesenangan.
Pikiran Mill yang kedua yang pantas disebut disini adalah bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian, bukan kebahagiaan satu orang saja yang barangkali mempunyai status khusus. Raja dan seorang bawahan dalam hal ini harus diperlakukan sama. Kebahagiaan satu orang tidak pernah boleh ditempatkan diatas kebahagiaan orang lain, betapa pentingnya kedudukannya dalam masyarakat. Menurut perkataan Mill sendiri: everybody to count for one, nobody to count for more than one. Dengan demikian suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaan, dimana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.

·         Tujuan Kritis
Salah satu kekuatan utiliarisme adalah mereka menggunakan sebuah prinsip jelas dan rasional. Dengan mengikuti prinsip ini pemerintah mempunyai pegangan yang jelas untuk membentuk kebijakannya dalam mengatur masyarakat. Dalam demokrasi modern, prinsip kegunaan -sadar atau tidak sadar- sering dipakai misalnya dengan mengadakan referendum atau dengan voting dalam parlemen. Suatu kekuatan lain adalah bahwa teori ini memperhatikan hasil perbuatan. Kita semua mempunyai kesan spontan bahwa hasil perbuatan turut menentukan kualitas etis perbuatan itu. Jika suatu perbuatan berakibat buruk seperti mencelakakan orang lain maka berpeluang lebih besar dianggap buruk secara etis daripada perbuatan berakibat baik seperti membantu orang lain. Sebagai contoh kita akan bersimpati pada Robin Hood karena ia mencuri harta orang kaya dan membagikannya ke orang miskin. Lain halnya jika ia mencuri untuk memperkaya diri sendiri, karena akibat dari perbuatan Robin Hood hanya menimbulkan kerugian yang tidak seberapa bagi orang kaya dan orang miskin tertolong. Akan tetapi utilitarianisme mempunyai beberapa kelemahan serius dipandang dari beberapa keberatan terhadap utilitarianismen.

A. Beberapa keberatan-keberatan dalam hedonisme sebagian berlaku juga pada utilitarianisme. Dikarenakan prinsip kegunaan berbunyi: kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, titik acuannya tidak pada pelaku individual saja melainkan umat manusia keseluruhan. Namun perlu dipertanyakan bagaimana Bentham bisa mempertanggungjawabkan sifat umum tersebut. Ia bertolak dari suatu dasar psikologi yang bersifat individualistis: sebagaianusia kita mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Karena itu ia tidak konsekuen dengan loncatannya ke jumlah orang terbesar.
B.  Prinsip kegunaan bahwa suatu perbuatan adalah baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak selamanya benar. Misalnya, kita bisa bayangkan suatu kasus sadisme dimana satu orang dengan cara kejam disiksa oleh banyak orang yang mempunyai kelainan jiwa sadisme. Kalau kesenangan para penyiksa melebihi penderitaan korban, maka menurut prinsip utilitarianisme perbuatan itu dinilai baik. Di sini kesadaran moral kita akan memberontak. Semua orang akan mengatakan bahwa kesenangan yang diperolah dengan membuat menderita orang lain, tidak pernah dapat dibenarkan. Dengan kata lain, dalam sistem utilitarianisme tidak ada tempat untuk paham "hak". Padahal, hak merupakan suatu kategori moral yang amat penting.
C.     Keberatan lain lagi adalah bahwa prinsip kegunaan tidak memberi jaminan apa pun bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Jika dalam suatu masyarakat mayoritas terbesar hidup makmur dan sejahtera serta hanya ada minoritas kecil yang serba miskin dan mengalami kekurangan, menurut utilitarianisme dari segi etis masyarakat seperti itu telah diatur dengan baik karena kesenangan melebihi ketidaksenangan. Akan tetapi, kita berpendapat bahwa masyarakat itu justru tidak diatur dengan baik karena tidak adil. Sebuah contoh lain yang bisa menimbulkan kesulitan untuk utilitarianisme adalah menepati janji. Bisa saja bahwa kebahagiaan lebih banyak orang akan meningkat drastis karena tidak menepati janjinya dan neraca antara kesenangan jauh lebih banyak dibanding ketidaksenangan, namun kita harus menegaskan bahwa janji harus ditepati. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu kekurangan pokok utilitarianisme sebagai sistem moral adalah mereka tidak dapat menampung prinsip keadilan dalam teori mereka.


·         Utilitarianisme Perbuatan dan Utilitarianisme Aturan

Suatu percobaan yang menarik untuk mengatasi kritik berat yang dikemukakan terhadap utilitarianisme adalah membedakan antara dua macam utilitarianisme: utilitarianisme perbuatan (act utilitarianism) dan utilitarianisme aturan (rule utilitarianism). Hal itu dikemukakan antara lain oleh filsuf Inggris-Amerika Stephen Toulmin dan kawan-kawannya menegaskan bahwa prinsip kegunaan tidak harus diterapkan atas salah satu perbuatan (sebagaimana dipikirkan dalam utilitarianisme Bentham dan Mill), melainkan atas aturan-aturan moral yang mengatur perbuatan-perbuatan kita. Orang sebaiknya tidak bertanya "apakah lebih banyak orang yang memeroleh kebahagiaan paling besar, jika seseorang menepati janjinya dalam situasi tertentu? Yang harus ditanyakan adalah: "apakah aturan moral 'orang harus menepati janjinya' merupakan aturan yang paling berguna bagi masyarakat atau sebaliknya, aturan 'orang tidak perlu menepati janji' akan menyumbang kebahagian paling besar untuk orang banyak?" Kita akan sepakat bahwa aturan "orang harus menepati janji" pasti lebih berguna dan karena itu harus diterima sebagai aturan moral. Juga kesulitan-kesulitan lain terhadap utilitarianisme, seperti hak manusia atau perlunya keadilan, akan hilang dengan sendirinya, asal prinsip kegunaan diterapkan atas aturannya dan bukan atas perbuatan satu demi satu.
Filsuf seperti Richard B. Brandt melangkah lebih jauh lagi dengan mengusulkan agar bukan aturan moral satu demi ssatu melainkan sistem aturan moral sebagai keseluruhan diuji dengan prinsip kegunaan. Kalau begitu, perbuatan adalah baik secara moral, bila sesuai dengan aturan yang berfungsi dalam sistem aturan moral yang paling berguna bagi suatu masyarakat.
Utilitarianisme aturan ini merupakan varian yang menarik dari utilitarianisme. Lebih sedikit hal yang merugikan dibanding utilitarianisme perbuatan. Namun bukan berarti utilitarianisme aturan ini tidak memiliki kesulitan. Kesulitan utama timbul , jika terjadi konflik antara dua aturan moral. Misalnya seorang bapak yang sudah berusaha keras mencari uang untuk membeli obat yang sangat dibutuhkan anaknya yang sakit, jika anaknya tidak meminum obat tersebut, anaknya akan mati. Segala cara telah ditempuh namun gagal, tinggal satu cara yang belum ditempuh yakni mencuri. Disini terdapat konflik antara dua aturan moral: "orang tidak boleh mencuri" dan "orang tua harus berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anaknya". Dari dua aturan moral ini, mana yang paling penting? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat situasi konkret. Dan mungkin kebanyakan orang akan mengatakan dalam situasi konkret bapak itu boleh saja mencuri asal tidak terlalu merugikan orang lain. Akan tetapi, apakah dengan demikian kita akan meninggalkan utilitarianisme aturan dan kembali lagi pada utilitarianisme perbuatan? Rupanya memang demikian,

Nama: Raina Putri Anisa
NPM : 15515590

Tidak ada komentar:

Posting Komentar