HEDONISME
dan UTILITARIANISME
Disusun
Oleh :
Nama : 1. Alfiah Wulandari (10515503)
2. Mutiara Deviani (14515864)
3. Raina Putri Anisa (15515590)
4. Rianti Nurindah Kuwais
(17515678)
5. Riskah Yullyanti (16515065)
6. Tiara Ayu Wirahutami (16515883)
7. Zahrah Khairunnisa (17515381)
Kelas
: 1PA14
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kode Etik
Semester
Genap
Tahun
Ajaran 2015 / 2016
Universitas
Gunadarma
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 HEDONISME
Sepanjang sejarah barangkali
tidak ada filsafat moral yang lebih mudah dimengerti dan akibatnya tersebar
lebih luas seperti hedonisme ini.Maka tidak mengherankan jika pandangan ini
sudah timbul pada awal sejarah filsafat.Atas pertanyaan ‘apa yang menjadi hal
yang terbaik bagimanusia’, para hedonismen jawab :kesenangan (Hedone dalam bahasaYunani), adalah baik
apa yang memuaskan keinginan kita, apa yang meningkatkankuantitas kesenangan
atau kenikmatan dalam diri kita.
Dalam filsafat yunani
hedonism sudah ditemukan pada Aristippos dari Kyrene (sekitar 433-355
SM), seorang murid sokrates. Sokrates telah bertanya tentang tujuan terakhir
bagi kehidupan manusia atau apa yang sungguh-sungguh baik bagi manusia, tetapi
ia sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan itu dan hanya
mengkritik jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh orang lain. Aristippos
menjawab : yang sungguh baik bag imanusia adalah kesenangan. Hal itu terbukti
karena sudah sejak masa kecilnya manusia merasa tertarik akan kesenangan dan
bila telah tercapai ia tidak mencari sesuatu yang lain lagi. Sebaliknya, ia
selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Bagi Aristippos kesenangan itu
bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain dari pada gerak dalam
badan. Mengenai gerak itu ia membedakan tiga kemungkinan :gerak yang kasar dan
itulah ketidaksenangan, misalnya, rasa sakit ; gerak yang halus dan itulah
kesenangan; sedangkan tiadanya gerak merupakan suatu keadaan netral, misalnya,
jika kita tidur. Aristippos menekan lagi bahwa kesenangan harus dimengerti
sebagai kesenangan aktual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan di
masa mendatang. Sebab, hal-hal terakhir ini hanyalah ingatan akan atau
antisipasi atas kesenangan. Yang baik dalam arti sebenarnya adalah kenikmatan
kini dan disini. Jika kita melihat pandanga Aristipposini sebagai keseluruhan,
perlu kita simpulkan bahwa ia mengerti kesenangan sebagai badani, aktual, dan
individual.
Akan tetapi, ada batas untuk
mencari kesenangan. Aristippos pun mengakui perlunya pengendalian diri,
sebagaimana sudah diajarkan oleh gurunya, Sokrates. Dalam pada itu mengakui
perlunya pengendalian diri tidak sama dengan meninggalkan kesenangan. Yang penting
ialah mempergunakan kesenangan dengan baik dan tidak membiarkan diri terbawa
olehnya, sebagaimana menggunakan kuda atau perahu tidak berarti
meninggalkannya, tetapi menguasainya menurut kehendak kita.Konon, kepada
teman-teman yang mengkritiknya karena hubungannya dengan seorang wanita
penghibur kelas tinggi yang bernama Laisia menjawab : ‘Saya memiliki Lais, ia
tidak memiliki saya’. Secara konsekuen ia berpendapat juga bahwa manusia harus
membatasi diri pada kesenangan yang diperoleh dengan mudah dan tidak perlu
mengusahakan kesenangan dengan susah payah serta bekerja keras.
Filsuf yunani lain yang
melanjutkan hedonism adalah Epikuros (341-270 SM), yang memimpin
sebuah sekolah filsafat di Athena. Epikuros pun melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan
manusia. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan ,tetapi
pengertiannya tentang kesenangan lebih luas daripada pandangan Aristippos.
Walaupun tubuh manusia merupakan ‘asas serta akar’ segala kesenangan dan
akibatnya kesenangan badani harus dianggap paling hakiki, namun Epikorus
mengakui adanya kesenangan yang melebihi tahap badani. Dalam sepucuk surat ia
menulis : ‘Bila kami mempertahankan bahwa kesenangan adalah tujuannya, kami
tidak maksudkan kesenangan indrawi, tetapi kebebasan dari nyeri dalam tubuh
kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa’ (Surat kepada Menoikeus). Tetapi
kesenangan rohani itu hanyalah bentuk yang diperhalus dari kesenangan badani.
Ia juga tidak membatasi kesenangan pada kesenangan actual saja. Dalam menilai
kesenangan, menurut Epikuros kita harus memandang kehidupan sebagai keseluruhan
termasuk juga masa lampau dan masa depan.
Biarpun pada dasarnya setiap kenangan
bisa dinilai baik, namun itu tidak berarti bahwa setiap kesenangan harus
dimanfaatkan juga. Dalam hal ini pentinglah pembedaan yang diajukan Epikuros
antara tiga macam keinginan :keinginan alamiah yang perlu (seperti makanan),
keinginan alamiah yang tidak perlu (seperti makanan yang enak), dan keinginan
yang sia-sia (seperti kekayaan). Hanya keinginan macam pertama harus dipuaskan
dan pemuasannya secara terbatas menghasilkan kesenangan paling besar. Karena
itu Epikuros menganjurkans emacam ‘pola hidup sederhana’. Orang bijaksana akan
berusaha sedapat mungkin hidup terlepas dari keinginan. Dengan demikian manusia
akan mencapai ataraxia, ketenagan
jiwa atau keadaan jiwa seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal
yang lain. Ataraxia begitu penting bagi Epikorus, sehingga ia menyebutkan juga
tujuan kehidupan manusia (disamping kesenangan). Ataraxia berperanan bagi jiwa,
seperti kesehatan bagi badan. Orang bijaksana yang memperoleh ketenangan jiwa
itua kan berhasil mengusir segala macam ketakutan (untuk kematian, dewa-dewa,
dan suratan nasib), menjauhkan diri dari kehidupan politik dan menikmati
pergaulan dengan sahabat-sahabat.
·
Tujuan Kritis
A. Dalam hedonisme terkandung kebenaran yang mendalam:
manusia menurut kodratnya mencari
kesenangan dan berupaya menghindari ketidak senangan. Psikologi modren -
khususnya psikolohi yang memanfaatkan psikoanalisi Sigmund Freud -
memperlihatkan bahwa kecenderungan manusia itu bahkan terdapat pada taraf tak
sadar. Sering kali manusia mencari kesenangan tanpa diketahuinnya (dibandingkan
paham “libido” pada Freud). Tidak bisa disangkal, keinginan akan kesenangan
merupakan suatu dorongan yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Tapi di sini
perlu dikemukakan sebuah catatan kritis yang pertama. Apakah manusia selalu
mencari kesenangan? Apakah manusia menurut kodratnya mencari kesenanfan
dalan arti bahwa ia tidak lagi manusia (tapi malaikat atau apa...), jika ia
tidak mencari kesenangan? Apakah tidak mungkin juga manusia yang membaktikan
seluruh hidupnya demi kebaikan orang lain, dengan niat murni tanpa pamrih?
Tentu saja, para hedonis selalu bisa mengatakan bahwa mencari kesenangan adalah
motivasi terkahir. Jika kita melihat Ibu Teresa dan Kalkuta beserta
rekan-rekannya membaktikan hidupnya dengan melayani orang yang paling miskin
dan menderira, para hedonis bisa saja mengatakan bahwa mereka pada akhirnya
melakukan hal itu untuk mancari kesenangan, untuk dipuji oleh khalayak ramai,
untuk meraih Hadiah Nobel (dan ternyata berhasil) atau sekurang-kurangnya untuk
memperoleh kebahagian kekal di surga sebagai pahala atas segala jerih payahnya
di bumi ini. Atau para hedonis bisa menegaskan bahwa membantu orang lain selalu
juga menyenangkan, karena “lebih baik memberi daripada menerima”. Orang yang
sanggup memberi selalu berada dalam posisi yang lebih menyenangkan. Tetapi
apakah itu seluruhnya benar? Apakah orang seperti Ibu Teresa berbuat baik hanya
selama dan sejauh mana perbuatannya
membawa kesenangan? Apakah kesenangan betul-betul motivasi terakhir hidupnya?
Sulit untuk membuktikan ketidakbenaran para hedonis. Kita yakin mereka tidak
benar bukan karena suatu kekurangan logis dalam argumentasinya, melainkan
karena pandangan mereka tidak cocok dengan pengalaman hidup kita. Kita menerima
kemungkinan sikap altruistis yang murni, biarpun barangkali
jarang tercapai.
B. Kritik lebih berat lagi adalah bahwa dalam argumentasi
hedonisme terdapat loncatan yang tidak di pertanggungjawabkan. Dari anggapan
bahwa kodrat mannusia adalah encari kesenangan (yang menurut hemat kami dapat
dipertanyakan lagi), ia sampai pada menyetarafkan kesenangan dengan moraliras
yang baik. Secara logis hedonisme harus membatasi diri pada suatu etika
deskriptif saja (pada kenyataannya kebanyakan manusia membiarkan tingkah lakunya
dituntun oleh kesenangan), dan tidak boleh merumuskan suatu etika normatif
(yang baik secara moral adalah mencari kesenangan). Jika manusia memang
cenderung kepada kesenangan, apa yang membuktikan hal itu tentang kualitas
etisnya? Jika manusia cenderung kepada kesenangan, apa yang menjamin bahwa
kecenderungan itu baik juga? Ada yang memperoleh kesenangan dengan menyiksa
atau malah membunuh orang lain, yaitu mereka yang disebut kamu sadis. Para
hedonis tidak bisa menyingkirkan kenyataan itu dengan menandaskan: tapi
perbuatan seperti itu a kan dihukum dan karena itu akan disertai
ketidaksenangan. Sebab, banyak perbuatan jahat tidak diketahui dan akibatnya
tidak dihukum. Karena itu kesenangan saja tidak cukup untuk menjamin sifat atis
suatu perbuatan.
C. Para hedonis mempunyai konsepsi yang salah tentang
kesenangan. Mereka berpikir bahwa sesuatu adalah baik, karena disenangi. Akan
tetapi, kesenangan tidak merupakan suatu peraaan yang subyektif belaka tanpa
acuan obyektif apa pun. Sebenarnya kesenangan adalah oantulan subyektif dari
sesuatu yang obyektif. Sesuatu tidak menjadi baik karena disenangi, tapi
sebaliknya kita merasa senang karena memperoleh atau memiliki sesuatu yang
baik. Kita menilai sesuatu sebagai baik karena kebaikannya yang intrinstik,
bukan karena kita secara subyektif belaka menganggap hal itu baik. Jadi,
kebaikan dari apa yang menjadi obyek kesenangan mendahului dan diandalkan oleh
kesenangan itu. Dalam hal ini James Rachels memberi sebuah contog yang jelas.
Andaikan saja saya mempunyai seorang sahabat. Saya senang sekali dengan dia,
karena berulang kali saya mengalami keramahan, perhatian dan kebaikan hatinnya
terhdap saya. Tapi pada kenyataannya dan tanpa saya mengetahuinya yang disebut
“sahabat” itu terus-menerus membohongi saya, meniou saya dan menjelekkan nama
baik saya. Lalu timbul pertanyaan: apakah saya sungguh-sungguh senang dengan
dua? Tentu tidak. Keseangan saya dengan dia tidak lebih daripada sbeuah ilusi
saja, suatu dinia khayalam yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sesuatu tidak
menjadi baik karena disenangi, tapi saya dijadikan senang karena memiliki
sesuatu yang betul-betul baik.
D. Jika dipikirkana secara konsekuen, hedonisme
menganduung suatu egoisme, karena anya memperhatikan kepentingan dirinya saja.
Itulah keberatan keempat terhadap hedonisme. Yang dimaksudkan dengan egoisme di
sini adalah egoisme etis atau egoisme yang mengatakan bahwa saya
tidak mempunyai kewajiban moral membuat sesuatu yang lain daripada yang terbaik
bagi diri saya sendiri. Egoisme etis mempunyai prinsip saya duluan, orang lain
belakangan saja. Tapi prinsip itu sulit untuk dipertahankan. Apa yang membuat
saya menjadi begitu istimewa? Mengapa saya membutuhkan lebih banyak atau
hal-hal lebih baik daripada orang lain? Egoisme etid harus ditolak karena
bertentangan dengan prinsip persamaan (the principle of equality yang
merupakan suatu prinsip keadilan): semua manusia harus diperlakukan dengan cara
sama, selama tidak ada alasan untuk perlakuan yang berbeda. Jika dua pasien
pada waktu yang sama tiba dirumah sakit, yang satu pasien gawat, yng lain
pasien biasa, ada alasan untuk melayani pasien gawat dulu dan baru kemudian
pasien biasa. Jika dua anak muda ikut dalam tes masuk perguruan tinggi dan yang
satu memperoleh nilai bagus dan sedangkan yang kedua mendapat nilai jelek,
dengan alasan pula untuk perlakuan yang berbeda, yaitu menerima yang pertama
dan menolak yang kedua. Tapi jika tidak ada alasan untuk perlakuan yang
berbeda, dua orang harus diperlakukan dengan cara yang sama. Saya tidak bisa
menuntut bahwa sayalah yang didahulukan, jika tidak ada alasan yang relavan.
2.2 UTILITARIANISME
Aliran
ini berasal dari tradisi pemikiran moral di United Kingdom dan di kemudian hari
berpengaruh ke seluruh kawasan yang berbahasa Inggris. Filsuf Skotlandia, David
Hume (1711-1776), sudah memberi sumbangan penting ke arah perkembangan aliran
ini, tapi utilitarianisme menurut bentuk lebih matang berasal dari filsuf
Inggris, Jeremy Bentham (1748-1832), dengan bukunya Introduction to the
Principles of Morals and Legislation (1789). Utilitarianisme dimaksudkan
sebagai dasar etis untuk membaharui hukum Inggris, khususnya hukum pidana.
Jadi, ia tidak ingin menciptakan suatu teori moral abstrak, tetapi mempunyai
maksud sangat konkret. Ia berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan
kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah Illahi atau
melindungi yang disebut hak-hak kodrati. Karena itu ia beranggapan bahwa
klasifikasi kejahatan, umpamanya, dalam sistem hukum Inggris adalah ketinggalan
zaman dan harus diganti. Bentham mengusulkan suatu klasifikasi kejahatan yang
didasarkan kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban
dan masyarakat. Suatu pelanggaran yang tidak merugikan orang lain, menurut
Bentham sebaiknya tidak dianggap sebagai tindakan kriminal, seperti misalnya
pelanggaran seksual yang dilakukan atas dasar suka sama suka.
Bentham
mulai dengan menekankan bahwa umat manusia menurut kodratnya ditempatkan di
bawah pemerintahan dua penguasa yang berdaulat: ketidaksenangan dan kesenangan.
Menurut kodratnya manusia menghindari ketidaksenangan dan mencari kesenangan.
Kebahagiaan tercapai, jika ia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan.
Dalam hal ini Bentham sebenarnya melanjutkan begitu saja hedonisme klasik.
Karena
menurut kodratnya tingkah laku manusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu
perbuatan dapat dinilai baik atau buruk, sejauh dapat meningkatkan atau
mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Dalam hal ini Bentham
meninggalkan hedonisme individualistis dan egoistis dengan menekankan bahwa
kebahagiaan itu menyangkut seluruh umat manusia. Moralitas suatu tindakan harus
ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat
manusia. Dengan demikian, Bentham sampai pada the principle of utility yang
berbunyi: the greatest happiness of the greatest number, “kebahagiaan
terbesar dari jumlah orang terbesar”. Prinsip kegunaan ini menjadi norma untuk
tindakan-tindakan kita pribadi maupun untuk kebijaksanaan pemerintah, misalnya,
dalam menentukan hukum pidana.
Menurut Bentham,
prinsip kegunaan tadi harus diterapkan secara kuantitatif belaka. Karena
kualitas kesenangan selalu sama, satu-satunya aspek yang bisa berbeda adalah
kuantitasnya. Bukan saja the greatest number tapi juga the greatest
happiness dapat diperhitungkan. Untuk itu ia mengembangkan the
hedonistic calculus. Sumber-sumber kesenangan dapat diukur dan
diperhitungkan menurut intensitas dan durasi perasaan yang diambil daripadanya,
menurut akibatnya, menurut kepastian akan dapat menghasilkan perasaan dengan
sumbernya, menurut kemurnian serta jangkauan perasaan, dan sebagainya.
Perhitungan ini akan menghasilkan saldo positif, jika kredit (kesenangan)
melebihi debetnya (ketidaksenangan). Salah satu contoh adalah cara Bentham
memperhitungkan kadar moral dari perbuatan minum minuman keras sampai mabuk.
Hasil perhitungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
KEMABUKAN
KETIDAKSENANGAN
(DEBET)
|
KESENANGAN
(KREDIT)
|
Durasi : singkat
Akibatnya : -kemiskinan
- nama buruk
- tidak sanggup bekerja
Kemurnian : Dapat
diragukan dalam keadaan mabuk sering tercampur unsur ketidaksenangan)
|
Intensitas : membawa banyak kesenangan
Kepastian : kesenangan pasti terjadi
Jauh/Dekat:
kesenangan timbul cepat
|
Seandainya tidak ada segi negatif,
maka keadaan mabuk akan merupakan sesuatu yang secara moral baik. Tapi sebagai
keseluruhan saldo adalah negatif dan Bentham malah sangat negatif, sehingga
kemabukan harus dinilai secara moral sangat jelek. Moralitas semua perbuatan
dapat diperhitungkan dengan cara sejenis.
Utilitarianisme diperhalus dan
diperkukuh lagi oleh filsuf Inggris besar, John Stuart Mill (1806-1873), dalam
bukunya Utilitarianism (1864). Dari pendapatnya disini patut disebut dua
hal. Pertama, ia mengkritik pandangan Bentham bahwa kesenangan dan kebahagiaan
harus diukur secara kuantitatif. Ia berpendapat bahwa kualitasnya perlu
dipertimbangkan juga, karena ada kesenangan yang lebih tinggi mutunya dan ada
yang lebih rendah. Kesenangan manusia harus dinilai lebih tinggi daripada
kesenangan hewan, tegasnya, dan kesenangan orang seperti Sokrates lebih bermutu
daripada kesenangan orang bodoh. Tetapi kualitas kebahagiaan dapat diukur juga
secara empiris, yaitu kita harus berpedoman pada orang yang bijaksana dan
berpengalaman dalam hal ini. Orang seperti itu dapat memberi kepastian tentang
mutu kesenangan.
Pikiran Mill yang kedua yang pantas
disebut disini adalah bahwa kebahagiaan yang menjadi norma etis adalah
kebahagiaan semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian, bukan kebahagiaan
satu orang saja yang barangkali mempunyai status khusus. Raja dan seorang
bawahan dalam hal ini harus diperlakukan sama. Kebahagiaan satu orang tidak
pernah boleh ditempatkan diatas kebahagiaan orang lain, betapa pentingnya
kedudukannya dalam masyarakat. Menurut perkataan Mill sendiri: everybody to
count for one, nobody to count for more than one. Dengan demikian suatu
perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaan, dimana
kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.
·
Tujuan Kritis
Salah satu kekuatan
utiliarisme adalah mereka menggunakan sebuah prinsip jelas dan rasional. Dengan
mengikuti prinsip ini pemerintah mempunyai pegangan yang jelas untuk membentuk
kebijakannya dalam mengatur masyarakat. Dalam demokrasi modern, prinsip
kegunaan -sadar atau tidak sadar- sering dipakai misalnya dengan mengadakan
referendum atau dengan voting dalam parlemen. Suatu kekuatan lain adalah bahwa
teori ini memperhatikan hasil perbuatan. Kita semua mempunyai kesan spontan
bahwa hasil perbuatan turut menentukan kualitas etis perbuatan itu. Jika suatu
perbuatan berakibat buruk seperti mencelakakan orang lain maka berpeluang lebih
besar dianggap buruk secara etis daripada perbuatan berakibat baik seperti
membantu orang lain. Sebagai contoh kita akan bersimpati pada Robin Hood karena
ia mencuri harta orang kaya dan membagikannya ke orang miskin. Lain halnya jika
ia mencuri untuk memperkaya diri sendiri, karena akibat dari perbuatan Robin
Hood hanya menimbulkan kerugian yang tidak seberapa bagi orang kaya dan orang
miskin tertolong. Akan tetapi utilitarianisme mempunyai beberapa kelemahan
serius dipandang dari beberapa keberatan terhadap utilitarianismen.
A. Beberapa
keberatan-keberatan dalam hedonisme sebagian berlaku juga pada utilitarianisme.
Dikarenakan prinsip kegunaan berbunyi: kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang
terbesar, titik acuannya tidak pada pelaku individual saja melainkan umat
manusia keseluruhan. Namun perlu dipertanyakan bagaimana Bentham bisa
mempertanggungjawabkan sifat umum tersebut. Ia bertolak dari suatu dasar
psikologi yang bersifat individualistis: sebagaianusia kita mencari kesenangan
dan menghindari ketidaksenangan. Karena itu ia tidak konsekuen dengan
loncatannya ke jumlah orang terbesar.
B. Prinsip kegunaan bahwa suatu perbuatan adalah baik jika
menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbesar, tidak selamanya
benar. Misalnya, kita bisa bayangkan suatu kasus sadisme dimana satu orang
dengan cara kejam disiksa oleh banyak orang yang mempunyai kelainan jiwa sadisme.
Kalau kesenangan para penyiksa melebihi penderitaan korban, maka menurut
prinsip utilitarianisme perbuatan itu dinilai baik. Di sini kesadaran moral
kita akan memberontak. Semua orang akan mengatakan bahwa kesenangan yang
diperolah dengan membuat menderita orang lain, tidak pernah dapat dibenarkan.
Dengan kata lain, dalam sistem utilitarianisme tidak ada tempat untuk paham
"hak". Padahal, hak merupakan suatu kategori moral yang amat penting.
C.
Keberatan lain lagi adalah bahwa prinsip kegunaan tidak
memberi jaminan apa pun bahwa kebahagiaan dibagi juga dengan adil. Jika dalam
suatu masyarakat mayoritas terbesar hidup makmur dan sejahtera serta hanya ada
minoritas kecil yang serba miskin dan mengalami kekurangan, menurut
utilitarianisme dari segi etis masyarakat seperti itu telah diatur dengan baik
karena kesenangan melebihi ketidaksenangan. Akan tetapi, kita berpendapat bahwa
masyarakat itu justru tidak diatur dengan baik karena tidak adil. Sebuah contoh
lain yang bisa menimbulkan kesulitan untuk utilitarianisme adalah menepati
janji. Bisa saja bahwa kebahagiaan lebih banyak orang akan meningkat drastis
karena tidak menepati janjinya dan neraca antara kesenangan jauh lebih banyak
dibanding ketidaksenangan, namun kita harus menegaskan bahwa janji harus
ditepati. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu kekurangan pokok
utilitarianisme sebagai sistem moral adalah mereka tidak dapat menampung
prinsip keadilan dalam teori mereka.
·
Utilitarianisme Perbuatan dan Utilitarianisme Aturan
Suatu percobaan yang menarik untuk
mengatasi kritik berat yang dikemukakan terhadap utilitarianisme adalah
membedakan antara dua macam utilitarianisme: utilitarianisme perbuatan (act
utilitarianism) dan utilitarianisme aturan (rule utilitarianism). Hal itu
dikemukakan antara lain oleh filsuf Inggris-Amerika Stephen Toulmin dan
kawan-kawannya menegaskan bahwa prinsip kegunaan tidak harus diterapkan atas
salah satu perbuatan (sebagaimana dipikirkan dalam utilitarianisme Bentham dan
Mill), melainkan atas aturan-aturan moral yang mengatur perbuatan-perbuatan
kita. Orang sebaiknya tidak bertanya "apakah lebih banyak orang yang
memeroleh kebahagiaan paling besar, jika seseorang menepati janjinya dalam
situasi tertentu? Yang harus ditanyakan adalah: "apakah aturan moral
'orang harus menepati janjinya' merupakan aturan yang paling berguna bagi
masyarakat atau sebaliknya, aturan 'orang tidak perlu menepati janji' akan
menyumbang kebahagian paling besar untuk orang banyak?" Kita akan sepakat
bahwa aturan "orang harus menepati janji" pasti lebih berguna dan
karena itu harus diterima sebagai aturan moral. Juga kesulitan-kesulitan lain
terhadap utilitarianisme, seperti hak manusia atau perlunya keadilan, akan
hilang dengan sendirinya, asal prinsip kegunaan diterapkan atas aturannya dan
bukan atas perbuatan satu demi satu.
Filsuf seperti Richard B. Brandt
melangkah lebih jauh lagi dengan mengusulkan agar bukan aturan moral satu demi
ssatu melainkan sistem aturan moral sebagai keseluruhan diuji dengan prinsip
kegunaan. Kalau begitu, perbuatan adalah baik secara moral, bila sesuai dengan
aturan yang berfungsi dalam sistem aturan moral yang paling berguna bagi suatu
masyarakat.
Utilitarianisme aturan ini
merupakan varian yang menarik dari utilitarianisme. Lebih sedikit hal yang
merugikan dibanding utilitarianisme perbuatan. Namun bukan berarti
utilitarianisme aturan ini tidak memiliki kesulitan. Kesulitan utama timbul ,
jika terjadi konflik antara dua aturan moral. Misalnya seorang bapak yang sudah
berusaha keras mencari uang untuk membeli obat yang sangat dibutuhkan anaknya
yang sakit, jika anaknya tidak meminum obat tersebut, anaknya akan mati. Segala
cara telah ditempuh namun gagal, tinggal satu cara yang belum ditempuh yakni
mencuri. Disini terdapat konflik antara dua aturan moral: "orang tidak
boleh mencuri" dan "orang tua harus berusaha sekuat tenaga untuk
menyelamatkan anaknya". Dari dua aturan moral ini, mana yang paling
penting? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat situasi konkret. Dan
mungkin kebanyakan orang akan mengatakan dalam situasi konkret bapak itu boleh
saja mencuri asal tidak terlalu merugikan orang lain. Akan tetapi, apakah
dengan demikian kita akan meninggalkan utilitarianisme aturan dan kembali lagi
pada utilitarianisme perbuatan? Rupanya memang demikian,
Nama: Raina Putri Anisa
NPM : 15515590
Tidak ada komentar:
Posting Komentar